Showing posts with label Kardiovaskuler. Show all posts
Showing posts with label Kardiovaskuler. Show all posts

Tuesday, April 1, 2014

Syok



a) gangguan pompa
- syok kardiogenik: biasanya karena kerusakan jantung sebelumnya (infark). Tatalaksana: inotropik (dobutamin, dopamin, norepinefrin)
- sekunder: emboli paru, tension pneumothorax, tamponade jantung. Tatalaksana: atasi penyebab.

b) gangguan sirkulasi perifer
- syok hipovolemik: karena fluid loss, misal diare, muntah, kebocoran plasma, heat exhaustion. Tatalaksana: resusitasicairan, 20 cc/kgBB secepatnya, dapat diulang. Bila tidak ada respon, perlu koloid/tranfusi.
- syok hemoragik: karena pendarahan akibat trauma, fraktur tulang panjang, KET. Tatalaksana: resusitasi cairan, 20 cc/kgBB secepatnya, dapat diulang. Bila tidak ada respon, perlu koloid/tranfusi.
- syok anafilaktik: karena obat, antibiotik, media kontras, atau reaksi alergi lain. Tatalaksana: adrenalin/epinefrin IM 0,5 mg.
- syok sepsis: karena infeksi yang masuk ke sistemik. Biasanya ada fokus infeksi (nanah, cairan hijau dll).

Tatalaksana: antibiotik broad spectrum iv.
- syok neurogenik: post-spinal surgery.
- gangguan endokrin: addison disease / hipotiroidisme
- iatrogenik: karena obat-obatan, misal anestesia, antihipertensi.

Penyakit Jantung Bawaan Asianotik


a) kebocoran darah "kaya oksigen", sehingga beban jantung bertambah.
b) Ventricular Septal Defect (VSD)
 - kelainan jantung bawaan terbanyak, 35% menutup sendiri
 - PF: murmur pansistolik di garis sternal kiri bawah sela iga 3-4. Bisa didapatkan thrill. Murmur mid-diastolik di apeks.
c) Arterial Septal Defect (ASD)
 - biasanya asimptomatik
 - PF: fixed split S2
d) Patent Ductus Arteriosus (PDA)
 - adanya hubungan  antara kedua  aorta dan arteri pulmonal.
 - PF: tekanan nadi melebar: continuous machine like murmur (sistolik dan diastolik) di infraclavicula.
 - tatalaksana: ibuprofen/indometacin untuk menutup duktus.

Penyakit Jantung Bawaan Sianotik

a) sianotik terjadi karena darah "miskin oksigen" tercampur dengan daerah  "kaya oksigen"
b) tetralogi of fallot
 - VSD, pulmonary stenosis, overriding aorta dan right ventricular hypertrofi
 - foto thoraks: boot shape
 - cyanotic/tet/hypoxic spell: beri oksigen, lakukan knee-chest position, beri cairan NaCl, dan morfin sulfat.
c) Transposition of Great Arteries
 - tatalaksana dengan Prostaglandin (untuk mempertahankan duktus arteriosus)

Hipertensi


a) klasifikasi JNC VII
- grade I: >140/90
- grade II: >160/100

b) hipertensi primer (95%): hipertensi esensial, tidak ada penyebab pasti.

c) hipertensi sekunder (5%): hipertensi disebabkan penyakit lain, biasanya kelainan di renal, atau kelainan endokrin.

d) krisis hipertensi: sistolik > 180, diastolik > 120
- hipertensi urgensi: tidak ada kerusakan organ target. Turunkan TD dalam beberapa jam dengan obat oral.
- hipertensi emergensi: ada kerusakan organ target (otak, retina, jantung, ginjal). Turunkan tekanan darah dengan segera. Gunakan anti hipertensi IV

e) target terapi: TD terkontrol <140/90

f) tatalaksana (JNC VII): grade I- HCT; grade II-HCT+ obat lain (ACE Inhibitor, beta blocker, Ca antagonis, dll)

g) farmakologi hipertensi:
- ACE inhibitor (Captopril): efek sampingnya batuk kering-dapat diganti dengan ARB (Valsartan)-dan hiperkalemia. Obat hipertensi pilihan pada DM dan CKD. Kontraindikasi pada ibu hamil.
- HCT: efek sampingnya hipokalemia, hiponatremia. Kontraindikasi relatif pada gout, dislipidemia, dan DM.
- beta blocker (misal Bisoprolol): efek sampingnya bronkospasme. Kontraindikasi pada asma dan AV block.
- obat hipertensi pada ibu hamil.

Henti Jantung (Cardiac Arrest)

a) cek kesadaran-panggil bantuan-RJP 30:2
b) setelah ada monitor:
 - shockable: VT pulseless dan VF-defibrilasi (monofasik 360J, bifasik 200J)
 - non shockable: asstol dan PEA- lanjutkan RJP
c) dapat diberikan epinefrin/adrenalin 1 mg

Gagal Jantung

a) berbeda dengan serangan jantung/heart attack. Gagal jantung adalah kondisi dimana cardiac output tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh.

b) klinis: sesak, mudah lelah, tidak dapat terlentang (ortopnea), sering terbangun malam karena sesak (PND)

c) PF: edema, JVP meningkat, ronki basah halus di basal paru, hepatomegali. Pemeriksaan tambahan: tanda hipertrofi.

d) tatalaksana: diuretik (pilihannya diuretik)

e) klasifikasi gagal jantung

- NYHA Functional Class I: sesak saat aktivitas berat (lari, naik tangga)
- II: sesak saat aktivitas lebih ringan
- III: sesak saat aktivitas sehari-sehari
- IV: sesak saat istirahat

f) gagal jantung kronik (gagal jantung/CHF/gagal jantung kongestif): beberapa membagi sebagai gagal jantung kiri dan kanan.

- kiri: biasanya disebabkan karena hipertensi. Akibatnya aliran balik dari paru tertahan. Sesak, PND, ortopnea, ronki basah halus di basal paru.
- kanan: biasanya disebabkan karena penyakit di paru (mis: PPOK). Akibatnya aliran balik dari vena cava tertahan. JVP meningkat, hepatomegali, asites, edema.

g) tatalaksana: diuretik (furosemid dan atau  spironolakton), ACE Inhibitor (captopril), beta blocker (carvedilol, bisoprolol, dll), digoksin, vasodilator (nitrat).

h) gagal jantung akut: perubahan kondisi yang cepat dan tiba-tiba dari seseorang yang telah mengalami gagal jantung sebelumnya. Biasanya bermanifestasi sebagai edema paru akut.

i) edema paru akut: sesak tiba-tiba. PF didapatkan ronki basah halus di basal kedua lapang paru. Foto polos terdapat  tanda kranialisasi (bat wing) atau Kerley B line. Tatalaksana: MONF (Morfin, Oksigen, Nitrat, Furosemid)

Friday, March 28, 2014

Acute Coronary Syndrome (Angina Pektoris Tidak Stabil, STEMI, Non STEMI)


a) diagnosis ditegakkan jika ada 2 dari 3: nyeri dada tipikal, EKG, enzim jantung positif

b) klinis: nyeri dada sulit dilokalisir, terasa seperti terhimpit benda berat, menjalar ke bahu/lengan, mual-muntah, berkeringat dingin. Berlangsung >20 menit

c) pemeriksaan tambahan: EKG, enzim jantung, (CKMB, troponin)

d) tata laksana awal: Morfin, Oksigen, Nitrat e.g ISDN atau nitrogliserin, Aspirin (MONA)

e) angina pektoris tidak stabil: angina yang terjadi pertama kali, angina crescendo (makin berat), angina yang tidak membaik dengan istirahat/nitrat. EKG: biasanya ST depresi. Enzim jantung normal.

f) angina pektoris stabil (tidak termasuk dalam ACS): angina yang sehari-hari, sering dirasakan, muncul saat aktifitas, frekuensi dan beratnya nyeri tetap sama, membaik dengan istirahat/nitrogliserin.

g) STEMI: EKG menunjukkan ST Elevasi. Enzim jantung meningkat. Terapi diberikan trombolitik (streptokinase)

h) Non STEMI: EKG menunjukkan ST depresi (biasanya) atau T inversi. Enzim jantung meningkat. Tidak diberikan trombolitik.

i) faktor resiko: usia, riwayat keluarga (ACS < 55 tahun), rokok, LDL tinggi, hipertensi, obesitas, DM, stress, physical inactivity